Minggu 137 : Sudah Selesai dengan Diri Sendiri (?)

A note that I wrote at March 25, 2018. Just post it now, don’t ask why.

minggu 137

Baru saja kuakhiri permainanku dengan senja di Surabaya. Hari ini aku memanfaatkan sisa waktuku untuk hal-hal yang kuanggap, dan semoga Allah juga menghendaki aktivitasku hari ini bermanfaat. Sepanjang perjalanan pulang, seperti biasa, aku diam meresapi tentang apa yang ingin ku resapi. Hari ini senja mengajakku mengeja tentang diriku. Dan pernikahan.

Aku teringat ucap orang-orang di lingkungan kuliahku dulu. Opini terkuat yang kutangkap tentang menikah, mereka bilang, bahwa kesiapan kita untuk beranjak ke jenjang kehidupan yang itu (menikah) adalah bila kita sudah selesai dengan diri kita sendiri.

 

Selesai dengan diri kita sendiri.

 

Sejak tahun lalu hingga detik ini, jujur, saya tengah mengikhtiarkan pernikahan. Mungkin karena saya merasa saya sudah selesai dengan diri saya. Saya merasa sudah saatnya saya meningkatkan lagi level kehidupan saya. Saya merasa sudah selesai dengan target saya di level kehidupan saat ini. Sudah saatnya saya ke level selanjutnya. Yang bukan lagi tentang bahagia dan berlimpah. Tapi tentang berkah. 

Pikir saya, waktu itu, tahun lalu.

 

Pilihan datang dalam satu waktu, atau berkelanjutan. Kesempatan satu, dua, tiga, empat coba saya beri. Tapi di setiap itu selalu hadir tanya di hati. Bisakah saya yang terbiasa dengan kesendirian dan ketunggalan saya dalam berkontemplasi dan tidak membagi ruang ini kemudian menjadi saya yang membagi ruang saya. Bisakah saya yang nyaman dengan ketunggalan ini kemudian menjadi jamak.

 

Senja tadi mengajakku bertanya.

 

Sudah selesaikah aku dengan diriku? Apa itu yang dimaksud dengan sudah selesainya diriku? Apa indikator yang dapat membuatku menyatakan bahwa aku sudah selesai dengan diriku? Sehingga layak menjadi cikal untukku berpikir sudah saatnya aku bergerak menuju jenjang kehidupan yang itu (menikah).

Sejujurnya topik monolog senja ini telah mendampingiku beberapa bulan terakhir ini. Mencari makna dari “selesai” dan “tujuan menikah”.

 

Akhirnya senja ini tiba juga. Senja yang menawarkan jawaban.

 

Kajian yang kuikuti hari ini, serta silaturahim yang kujalin hari ini dengan kawan gadisku yang telah melepas label gadisnya menyongsong pengangkatan label barunya sebagai ibu, membantuku menuju sesi terakhir dari sesi-sesi monologku. Mengerucutkan apa yang sebenarnya sudah kuyakini sebagai jawabannya namun belum kuamalkan saja.

Ya. Saya sepakat bahwa menikah adalah ketika kita sudah selesai dengan diri kita sendiri. Tapi ini bukan tentang selesai tercapainya mimpi-mimpi kesuksesan kita. Bukan tentang selesainya kita memainkan masa muda kita, memainkan aktivitas hati kita. Mengenal segala jenis pria dan wanita untuk mengetahui mana yang terbaik bagi kita. Bukan pula tentang selesai mengerjakan hal-hal yang kita rasa perlu kita kerjakan sebelum kita memiliki pasangan dan darah daging. Bukan. Bukan itu. Karena kita tidak akan pernah selesai dengan itu semua. Bukankah bila kita tak lagi bernafsu, artinya kita sudah mati.

Bukankah semua yang kusebutkan tadi adalah nafsu? Manusia mana yang bisa dikatakan sebagai manusia ketika ia tak punya nafsu.

Ya. Bukan itu makna dari “selesai dengan diri sendiri”. Saya yakin ini bukan tentang hal yang terkait dengan nafsu. Pasti ini sesuatu yang lain.

Sempat terbesit mungkin ini adalah tentang selesai memantaskan diri menjadi istri ataupun ibu terbaik sesuai patokan yang kita bayangkan.

 

 

Perempuan mana yang bisa kita nyatakan pantas sebagai Ibu dan istri sebelum ia betul-betul berada dalam konteks menjadi ibu dan istri (Baik ibu tiri maupun istri siri juga berlaku dalam terminologi ini). Patokan mana yang bisa kita yakini sebagai tanda bahwa kita sudah pantas? Bukankah kepantasan itu relatif tergantung konteksnya? Tanpa konteks apakah bisa kita mempersepsi pantas – tidaknya sesuatu? Yang dulu kuliah Ilmu Komunikasi, coba ingat prinsip komunikasi yang ke-5, “Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu”. Maka persepsi pantas atau tidaknya ibu dan istri, tentu memerlukan konteks ruang dan waktu.

 

Lalu ini tentang apa? Apa yang selesai?

 

Persilahkan saya mengulang lagi ucapan saya.

 

Akhirnya senja ini tiba juga. Senja yang menawarkan jawaban.

 

Saya merasa, selesai dengan diri ini ditandai dengan memulai. Memulai langkah kecil menuju tujuan akhir dari dunia. Tujuan yang kita rumuskan menggunakan akal yang kita punya. Akal yang tentunya telah bersenyawa dengan akal – akal lain. Bukan hanya sekedar mengetahui dan meyakini tujuan akhir yang kita rumuskan sendiri itu. Semua orang mampu untuk tahu dan yakin. Tapi tidak semua orang mampu untuk memulai. Memulai langkah kecil betul-betul dengan finish line yang tampak jelas dan tidak buram. Saya yakin hanya mereka yang sudah selesai dengan dirinya lah yang bisa melakukan itu. Langkah kecil yang dimulainya dengan tujuan yang tajam dan tidak buram. Tentang tujuan akhir dari keberadaannya sepanjang usianya di dunia.

 

Apakah saya sudah selesai dengan diri saya?

 

Bukan saya yang bisa menjawab pertanyaan itu.

 

Tapi mereka yang melihat saya yang bisa menjawab itu. Bukan sekedar “mereka”. Tapi mereka yang sudah selesai dengan diri mereka juga.

Maka bila kau belum melihat langkah kecil itu dari saya, atau malah yang tampak dari saya adalah hal lain yang bukan langkah kecil itu, percayalah, artinya saya belum selesai dengan diri saya. Atau bisa jadi, kamu yang belum selesai dengan dirimu sehingga kamu tak bisa melihat langkah itu. Seperti kubilang tadi, hanya mereka yang sudah selesai dengan diri mereka juga yang bisa melihat itu.

 

Kita akan bisa saling melihat langkah itu, ketika kita sudah sama-sama selesai dengan diri kita.

 

Ketika kita sama-sama bisa melihat langkah kita menuju dia atau Dia.

Ketika kita sama-sama bisa melihat nilai-nilai apa, prinsip-prinsip apa yang kita pegang.

Ketika kita sama-sama bisa melihat karakter apa yang akhirnya kita pilih untuk kita tonjolkan pada diri kita.

 

Sesungguhnya ketika kita sudah selesai dengan diri kita sendiri, kita akan melihat horizon kita lebih luas. Selesainya kita dengan diri kita bukan hanya berkorelasi dengan pernikahan. Banyak korelasinya dengan hal lain selain itu. Tapi percayalah. Tujuannya sama. Satu. Dan Jelas.

 

 

Sudah selesai?

 

*Playing Mewangi*

Picture Source from Pinterest.

Advertisements

Minggu 129 : My Final Gaze

minggu 129

Pagi ini saya terbangun. Dengan kecup manis sinar lampu tidur berwarna jingga yang mengajak saya beranjak mengusap tetes air suci karena niat yang di dengung dalam hati. Setelah melipat sajadah berwarna tosca dengan rajut warna-warni bunga itu, saya terduduk dan menatap dalam wajah saya dalam pantul kaca bening. Kemanakah lagi engkau ingin melangkah?

 

Saya melihat di depan mata, mimpi yang telah saya urai. Dapatkah saya mewujudkannya. Ada yang kosong dari mimpi itu. Terkadang kekosongan itu memunculkan resah dan tanya. Menepis semua itu mantap dalam hati. Demi Sang Pencipta.

 

Saya menatap lagi sosok saya dalam uraian mimpi itu. Sosok saya yang terus melangkah maju. Membiarkan saya menatap dalam jarak. Ada luka yang belum terbungkus rapi. Saya usap luka itu, dan tiba-tiba terbius bisik dalam hati, “Allah. Percayalah”. Tersenyumlah saya. Kemudian saya tatap lagi sosok saya yang semakin jauh melangkah. Giving my final gaze. Kemudian saya berlari, dan merengkuh tangan saya sendiri. Lalu kami tersenyum.

 

Kulepaskan semuanya. Semua mimpi dan luka itu.

 

Terimakasih.

 

Ya Rabb, hidup kami adalah milikMu. Baik di dunia maupun di akhirat. Tidak akan pernah rugi sedikitpun, tidak akan pernah kecewa sedikitpun, kami yang datang padaMu, kami yang membutuhkanMu.

 

*Playing Gaze*

Picture Source from Pinterest.

Minggu 125 : Be Kind

minggu 125

  1. Selesai sudah bumi berevolusi mengitari Matahari. 365 hari. Bila satu hari itu saya hitung 24 jam, entah berapa hari sesungguhnya yang betul-betul hidup bagi saya. Mungkin tidak lengkap 365 hari yang sebenarnya saya lalui.

 

  1. As always. It’s also been a roller coaster year just like the years before. Sudah setting defaultnya demikian. Bagi setiap manusia. But I’d say, it’s been the hardest year for me. Mungkin betul quarter life crisis itu nyata ada. Hehe. I was demotivated. Dalam banyak aspek aktivitas. Saya seperti fana dan hanya melintas. It’s really, really, really hard untuk bertarung melawan diri saya sendiri. Melawan diri untuk tidak tenggelam dalam crisis yang sesungguhnya bisa dikontrol oleh cara berpikir kita sendiri sebagai tokoh utama dalam hidup kita masing-masing.

 

Pada perpindahan menuju 2018 ini, sempat saya menoleh ke belakang. Menilik hijrah yang tidak istiqomah, menilik niat yang kurang lurus, menilik hati yang terluka, menilik jawab akan pertanyaan, “sudahkah kita semua saling memaafkan?”. Saya tahu, ada banyak hati terdekat yang saling melukai. Sadar ataupun tidak. Izinkan saya meminta maaf. Pun bila kita sehati dalam rasa perlu mengucap maaf, saya sudah selesai bertarung dengan diri saya dan memaafkan. Saya berharap kalian juga telah menang bertarung melawan luka di hati kalian dan memaafkan saya atau siapapun yang melukai. Seperti kata quotes di sebuah film,

“When given the choice between being right or being kind, choose kind”.

Let’s embrace 2018 with a kind heart and beings.

Again. I apologize.

Saya minta maaf pada kamu dan hati yang saya lukai. Saya yakin, kamu tahu. Bahwa kamu termasuk yang saya tuju dan saya maksud.

 

Mari melangkah lagi.

 

Bila belum bisa kamu memaafkan saya, semoga pada 2018 ini, kamu berkenan memaafkan saya.

Actually, it’s really hard to hijrah, to start a new day, even a new life ketika mengingat masih ada kesalahan yang belum termaafkan dalam hari atau kehidupan yang lama. But that doesn’t mean we’re stopping and being gloomy. Karena bukan begitu Islam mengajarkan kita tentang kehidupan. Kita manusia memang fitrahnya untuk berbuat kesalahan. Itu tidak bisa dihindari. So when u did a mistake, that doesn’t mean you should stop your life until it’s forgiven. But surely, yes, you should apologize. If it’s not forgiven yet, it’s okay. Keep moving forward dengan memperbaiki agar tidak mengulang kesalahan yang sama, dan diiringi dengan berbuat baik. Bila tetap berbuat salah lagi, it’s okay. Repeat the cycle. Hingga kamu betul-betul bisa penuh berakhlaq baik, dan tidak mengulang lagi.

 

Mari bersama. Mengitari matahari. Sekali lagi.

 

Dan bila salah satu dari kita tidak selesai mengitari matahari hingga lengkap 365 hari seperti tahun sebelumnya, semoga kita sudah saling memaafkan, agar lapang jalan kita kembali ke Sang Maha Pencipta.

 

Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdur Rahman Mu’adz bin Jabal ra., mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah bagaimanapun keadaanmu. Iringilah setiap perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik sehingga perbuatan baik itu akan bisa menghapuskannya. Dan pergaulilah masyarakat(mu) dengan akhlaq yang baik”. (HR. Tirmidzi).

 

*Playing Adelaide Sky*

Picture source from Pinterest.

Minggu 120 : Rejuvenation

minggu 120

Pagi ini saya terbangun dengan senyuman. Mendung dan kelabu dalam barisan biru di atas sana menambah syahdu pagi ini. Kemudian saya memutar alunan lagu bernada rindu, sembari akan menata dan merapihkan kamar saya. Sempat berdebat dengan selimut saya yang seolah ingin menarik saya kembali bergulat bersamanya. Entah panggilan darimana, mata saya beradu pandang dengan foto polaroid yang sudah berdebu. Foto hari wisuda saya. Dengan sepatu heels kuning dan barisan senyum sahabat saya. Hai COFED apa kabarmu? Di sisi foto itu terpajang pula (masih) foto COFED dengan pose mata sipit yang entah kapan terakhir kali terekam dalam hidup kami. Mungkin gambaran ini perlu dibingkai lagi.

Kemudian mata saya beradu pandang cukup lama. Dengan sebuah foto lagi di sebelahnya. Foto saya yang begitu close-up dengan pose ‘endel’ saya. Memegang helai rambut saya sembari berusaha tersenyum secantik-cantiknya. Pensil alis, bedak, dan lipstick menghias wajah saya. Perangkat yang sudah dua tahun ini saya tanggalkan sebagai kebutuhan sehari-hari.

Hai, Febri. Sudah lama kita tidak bercengkrama. Tahukah kamu, orang-orang baru yang muncul di masa depanmu, yang merupakan masa kiniku, memanggilmu Adel. Ya, seperti cita-citamu dulu waktu kecil. Kau ingin orang-orang memanggilmu Adel kan, tapi tidak pernah berhasil. Haha. Jangan tertawa. Kamu tidak tahu, mereka memanggilmu Adel tanpa perlu kau minta. Mereka sendiri yang mengusulkan. Meski mungkin kau perlu berterimakasih pada dua perempuan di tempat kerjamu kelak, di Wismilak, dan di PJB, yang bernama Febri dan Febi. Karena mereka, orang-orang baru dihidupmu mengusulkan memanggilmu Adel. Lucu bukan, ketika manusia memperoleh sesuatu yang diinginkannya justru ketika ia tidak mengusahakannya.

Febri. Apa kau berpikir yang sama denganku? Iya. Apakah kau juga merasa berbeda? Aku dan kamu berbeda. Bukan tentang nama. Tapi tentang rasa. Rasanya berbeda. Bukan pula tentang alis, bedak, dan lipstik, ataupun hijab. Ada rasa dan preferensi yang tak lagi sama. Ada kemampuan yang tak lagi sama. Ada argumentasi dan idealisme yang tak lagi sama. Bahkan untuk hal yang paling kau suka, yaitu ‘cinta’, pun kita sepertinya telah mendefinisikannya secara berbeda. Jujur, kini aku belum memiliki definisinya secara utuh. Bahkan aku masih meragukan diriku, apakah sungguh aku tengah mengadopsi itu. Kelak bila sudah kupahami, akan kuceritakan padamu. Tentang apa itu cinta karena Allah. Pun akan kuceritakan padamu, apakah iya aku sungguh mengadopsi sudut pandang itu. Mungkin itu yang masih sama tentang kita. Mencari makna dan meresapi.

Ya, Febri. Ternyata manusia bukan seperti matahari pagi, yang terbit pada titik yang sama, cara yang sama, dan bergerak dengan alur yang sama. Tapi bagaimanapun juga, kamu adalah persona yang paling potensial untuk dapat membahagiakan diri saya sehebat-hebatnya.

 

Karena kamu.

 

Adalah saya.

 

*Playing Matahari Pagi*

Minggu 116 : Makna dan Fana

minggu 116

Apa. Siapa. Kapan. Kemana. Kenapa. Dan Bagaimana.

Pernahkah kau membayangkan.

Suatu pagi nanti.

Dengan helai abu di kepalamu.

Garis kerut di kernyit matamu.

Garis urat di punggung tangan dan kakimu.

Dan sengal isak tarik-hembus nafasmu.

Kau terduduk di atas kursi kayu.

Menatap jauh pada apa saja yang melintas.

Di pelupuk matamu.

Kau bertanya,

Apa.

Siapa.

Kapan.

Kemana.

Kenapa.

Bagaimana.

Sudahkah semua terjawab.

Perjalananmu.

Sudahkah,

Setiap pertanyaan itu.

Menyunggingkan senyum di bibir tuamu.

Ataukah,

Itu semua.

Mengembalikanmu pada pertanyaan.

Sudahkah saya menjadi makna.

Ataukah saya hanya menjadi sekedar fana.

Kemudian kau beranjak.

Berdiri memeluk kenangan.

Apa.

Siapa.

Kapan.

Kemana.

Kenapa.

Dan Bagaimana.

 

*Playing Hingga Tenang*

 

Picture soure from Pinterest.

Minggu 109 : It’ll Just Imperfect

minggu 109

Tadi pagi ketika membereskan tempat tidur, menepuk bantal, guling, dan melipat selimut yang mendampingi tiap lelap saya, saya mengalami diskusi dengan diri saya. Setiap usap dan tepuk lembut saya pada perangkat tidur saya memunculkan seling tanya dan jawab. Sudah lama saya tidak merasa seintim ini dengan diri saya sendiri. Pada lipat terakhir selimut yang sekaligus menutup ritual pagi tersebut, saya beranjak mencari tetes air. Memindahkan diskusi saya pada kucuran air wudhu dan membawanya ke ‘atas’. Ke langit penyedia segala jawaban.

Sudah lama saya tidak menuangkan cerita tentang “pencarian calon imam”. Topik klise. Entah ingin atau tidak, namun saya merasa tertarik bercerita tentang itu (lagi). Anggap saja ini cuma sekedar curahan isi hati. Mungkin hasrat bercerita ini didorong oleh penyampaian niat berkenalan dan keseriusan yang silih berganti muncul dari beberapa pria dalam rentang beberapa bulan terakhir ini dan dihadapkan pada saya untuk berkata iya atau tidak. Mungkin pula didorong oleh kebingungan dan kegalauan berkata “tidak” untuk menghargai proses perkenalan yang sudah lebih dulu dijalani dengan seseorang meskipun berakhir “tidak” juga (meski bukan dari saya, tapi ibu saya 🙂 ). Mungkin juga didorong oleh pertanyaan-pertanyaan “Kamu kapan” yang wajar muncul dari setiap undangan pernikahan kawan.

 

Jadi, “Kapan?”.

 

Jawabannya satu. Saat Ibu meridhoi. Karena saat itu pulalah Allah meridhoi. Yap. Simpel. Memang masih belum ada yang diiyakan saja sama Ibu. But I’m sure, bukan hati ibu ingin menunda-nunda. Bukan pula seolah-olah Ibu membiarkan raga saya ini ingin terus menangkup “fitnah” karena belum ada yang “di-iyakan”. Apalagi karena belum ingin saya menikah. Ya, tiga hal ini sempat menjadi kesu’udzanan saya pada Ibu. But Finally, saya memahami…Bagaimanapun alasan ibu saya, syar’i ataupun tidak syar’i dalam persepsi saya, pun lawan jenis yang sampai pada tahap berkenalan dengan ibu saya, saya meyakini betul, Ridho Allah itu bergantung pada Ridho Ibu. Kalau memang Ibu masih belum Ridho, ya berarti Allah juga memang belum Ridho.

Saya yakin, Ibu betul-betul menyayangi saya. Dan sayangnya Ibu itu adalah batas tingkat paling bawah sayangnya Allah pada saya sebagai hambanya. So, can you imagine How Huge Allah’s love, then? Saya yakin, Ibu menginginkan yang terbaik bagi dunia-akhirat saya. Yang dapat “dititipi” saya anak perempuan semata wayangnya ketika beliau berada pada jarak ribuan awan dan lintas samudera sana. Yang dapat menenangkan “pejam matanya” saat kelak terpisah alam dengan saya. Yang dapat ‘mengamankan’ dan ‘membahagiakan’ hidup saya di dunia, dan menarik saya ke Surga.

 

Sometimes it’s really hard to say good bye to a person that I believe will be a good one for my Dunia-Akhirat. But when Ridho is not on the hand, it’ll just imperfect even if it’s pretty, right?

 

The moment will just come in time, when Allah says so.

When He (entah siapa) comes and attracts me. Then bravely ask to Ibu, and Ibu says “Yes”. Isn’t the process just that simple? Don’t circumstance things, and suffer deep in griefs, ladies. Menurut saja dengan Ibu. Bukankah itu menjadi tanda kesolekhaanmu? Am I right?

 

 

*Playing Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti*

 

Picture source from pinterest.

 

Minggu 108 : Cerita Fajar

minggu 108.jpg

Hai. Sudahkah kau sapa matahari? Baru saja dia tuntaskan tugasnya untuk menyirnakan garis fajar. Dengan cara yang sangat indah. Temaram lampu kota pun mulai padam. Beberapa orang sudah mulai bergerak dalam siklus rutinitas minggunya. Atau mulai bergerak menciptakan siklus baru.

Saya memejamkan mata. Membayangkan manusia-manusia yang berada di balik atap rumah mereka. Atau tempat-tempat mereka terlelap tadi malam.

Ah, ada seorang ibu yang sedang mengecup bayi mungil. Dari belakang punggungnya, ada lengan hangat seorang pria yang menangkup dan mengecup bahunya. Mengusap lembut pangkal kepalanya dan bayi itu. Ada tatapan syukur yang mendalam.

Hm, yang di sana. Ada seorang anak kecil perempuan. Mukenahnya lucu sekali. Berwarna kuning dengan renda perca kaca yang sederhana. Lucu sekali, ada boneka Pikachu didudukkan di sebelahnya. Sedang apa dia? Dia sedang mengaji. Hmmmmm, sendirian kah dia? Ah iya, sepertinya yang di kamar sebelahnya orangtuanya. Hmmm masih tidur mereka. Beruntungnya kalian memiliki anak perempuan itu. Berinisiatif mengaji sendiri setelah Shubuh. Mungkin didikan ustadz-ustadzahnya di sekolah. Semoga terus tumbuh menjadi Solekha.

Wah, rumah yang itu juga sama. Ada anak perempuan kecil yang sedang mengaji. Daripada anak yang tadi, yang ini mukenahnya lebih sederhana, pun rumahnya sih. Jauh sangat sederhana. Hmmmmm. Siapa itu? Ada kakek-nenek masih dengan pakaian sholat dan mukenah putihnya. Si Nenek menghampiri Kakek dengan segelas teh yang asapnya mengepul-ngepul. Hmmmm mana orangtua anak itu. Sepertinya mereka hanya bertiga. Mungkin dia dititipkan orangtuanya untuk tinggal di sana…Terimakasih Kakek dan Nenek. Semoga dia tumbuh menjadi manfaat di dunia dan akhirat bagi kalian.

Emmm, rumah yang di sana. Ada seorang Ibu yang sedang menarik selimut, bantal, sampai guling dari tempat tidur anaknya. Nampaknya sudah 21 Tahun usia anak itu. Sepertinya Ibu itu sedang mengucap, “Shubuh! Shubuh!”. Hahaha. Ini sangat indah. Bangunlah kawan. Kau akan merindukan itu suatu waktu nanti. Bahkan mungkin saat ini ada yang mendamba bisa merasakan momen yang sedang kau rasakan itu.

Coba sekarang yang di sana…Sepertinya ini kos-kosan. Hmmm. Tapi yang tinggal banyak orang dewasanya. Ada yang berpasangan juga. Wah, ada yang baru pulang sepertinya. Hmmm mbak, baju dan dandananmu. Eh, itu ada lagi. Temannya? Bajunya juga seksi. Mereka berpisah. Menyelip masuk dalam kamar masing-masing. Mbak yang tadi sudah masuk kamar. Sedang apa dia? Mengusap kapas membersihkan make-up nya. Tuh mbak, lebih cantik ndak pakai make up. Hm, apa itu di meja riasnya? Ada foto anak kecil perempuan. Hm, kemana Mbaknya tadi? Ah itu di kamar mandi. Membasuh rambutnya dan membuihinya dengan shampoo. Hmmm. Sepertinya aku tahu kamu siapa Mbak…Eh, sudah selesai mandinya. Mau apa dia? Apa itu yang diambil dari lemarinya? Hm, mukenah dan sajadah. Hai, jangan menangis. Kenapa kamu menangis? …. Semoga Allah memberkahimu dan anak kecil yang kau pajang fotonya di meja riasmu. Atau boleh ku sebut sebagai meja kerjamu? Seperti pekerja-pekerja kantoran yang memajang foto keluarganya di cubicle kerja mereka untuk memberi semangat dalam bekerja. Tenang ya, Mbak. Badai puan pasti berlalu…

Hmmmm, coba aku bergeser lebih jauh. Ah, pasangan. Sepertinya usianya tak jauh berbeda denganku. Ah manisnya, mereka baru usai berjamaah Shubuh. Kok ndak Shubuh di masjid aja sih masnya. Eleuh, eleuh. Yang perempuan salim cium tangan ke hidung. Aku tahu nih lanjutannya. Tuh kan, bener, yang laki-laki mengecup dahinya yang perempuan. Hmmmm…. Sepertinya saya kenal yang perempuan. Ah, bukannya itu teman saya. Kemarin baru saja dia akad dan melangsungkan resepsinya semalam. Hmmm, makanya yang laki-laki ngga shubuhan di masjid. Mungkin si mas nya lelah. Mereka berdua saling bertatapan dan tersenyum. Masih di atas sajadah mereka. Hangat sekali. Barakallahu laka, wa baraka ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khayr. Maaf ya saya tidak datang ke resepsimu. Luar kota siiih. Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan. Aamiin.

Hmmm, rumah siapa ini? Sepertinya aku mengenalinya. Eh, ada dua kucing. Yang satu gendut lucu sekali. Yang satu kurus. Ada tiga laki-laki yang masih terlelap. Eh, kamar satunya cuma ada seorang perempuan sendirian. Sedang apa dia? Hmmm sepertinya tidak ada orangtua di rumah ini. Ada meja belajar dihiasi corkboard dengan banyak sekali kertas tulisan yang dipinned di situ. Wishlist, dan segala catatan lain.  Foto ibu, dan kawan-kawan. Hm, saya tahu ini rumah siapa.

 

 

Aku membuka pejaman mataku.

 

 

QS As-Sajdah : 4-9 “Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu, ialah Tuhan yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang. Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur”.

 

*Playing Sampai Jadi Debu*

Picture source from pinterest.