Minggu 88 : The Moon Sonata

minggu 88

Hai, hidup.

Apakah kau memanggilku tadi?

Maaf bila aku tidak mendengar sapaanmu.

Apa?

Aku terlalu asyik menarikan jariku?

Seperti sedang memainkan barisan hitam putih piano kau bilang?

Haha.

Sebentar,,,biarkan aku tertawa dulu.

Kalimatmu tadi lucu sekali.

Hei.

Aku tidak sedang bermain piano.

Tidak, aku tidak sedang memainkan not balok apapun.

Kau tahu aku tak bisa.

Bukankah,

Kamu tahu pasti.

Bila jari – jari ini sedang menari.

Itu sedang bercerita tentangmu.

Pada mereka kaum yang haus akan cerita.

Pun sama sepertiku.

Iya.

Aku tahu.

Tidak.

Aku tidak ragu.

Tenang saja.

Akan ku bawa kamu.

Ke arah yang tepat.

Sudah.

Berhenti tersenyum seperti itu.

Kau begitu saja.

Dibelakangku.

Cukup tidak lupa sesekali menyapaku.

Agar aku menatapmu.

Menolehkan pandangku ke belakang.

Untukku mengingat tiap hentakan momentum yang membentukku.

Jangan lupa untuk sesekali memelukku dari belakang.

Kau tahu,,

aku suka itu kan?

.

.

.

Picture taken from pinterest.

Minggu 87 : Bingar yang Teduh

minggu 87

Kali ini hanya ingin bercerita. Beberapa waktu lalu ini, sedang berproses kenalan dengan seseorang yang sangat luar biasa. He did step by step (mostly) sesuai syariat. Tapi Allah punya rencana lain yang lebih indah. Untuk masing-masing dari kita, InsyaAllah.

Catatan saya…

Perkenalan sebaiknya menggunakan iman. Bukan perasaan.

Beberapa orang mungkin akan bilang “Halah”. Tapi beneran deh, teori ini bener banget dan manfaatnya MasyaAllah banget. Menjaga diri biar cepet “lurus” lagi kalau “mbelok”. Menjaga hati biar nggak cuwil bila gagal. Membantu membuat checklist yang tepat atas kualitas-kualitas yang harus dipertimbangkan tentang dia, tapi terutama tentang nilai kualitas kita sendiri bila bersama dia. Dan bila gagal perkenalannya, InsyaAllah sedih untuk merelakannya akan jadi pakai iman, bukan pakai perasaan. Jadiii, nggak sedih berlebihan.

Kemarin “belok” saya banyak. Serius deh, pakai iman itu penting. Selemah-lemah iman kita, InsyaAllah akan tetap membantu.

Sebaiknya memang berhenti bila langkah selanjutnya ada halangan, yang bila diterjang dapat melanggar syariat.

Iya…it’s another “Halah” (sok) wise words. Kesannya sok alim banget. Tapi memang bila bisa diusahakan tidak melanggar syariat, kenapa ngga dicoba untuk tidak melanggar? Jangan sampai mencoba mementahkan dengan rasionalitas kan? Terkadang memang ada hal-hal dalam agama yang memang tidak bisa dilogikakan. Bukannya itulah mengapa agama perlu iman? Katanya sih, “Jangan sampai kita mencerca atau menjudge seseorang yang sedang menjalankan syariat yang “diyakininya”. Kita ngga pernah tahu pasti bukan, mana syariat yang benar sebetulnya. Kita cuma tahu pasti syariat yang kita “yakini benar”. Relatif sekali. Mungkin saja syariat yang orang lain yakini itu yang benar. Hanya saja ilmu dan iman kita yang belum sampai”.

Anyway,,,,,untuk mas nya. *ciye*

Terimakasih telah mengambil sikap yang insyaAllah tepat. Selamat berjalan masing-masing lagi.

“Nggak mungkin orang yang datang kepada Allah, pulang dalam keadaan kecewa”.*

Ya kan?

Picture taken from pinterest.

*Quoted from Ustadz Hannan Attaki

Minggu 78 : ‘Dunia’ Tanpa Batas

minggu-78

Guratan wajah itu. Hadir dihadapanku. Sosok yang hadir dan tiada. Namun mungkin selalu menyajikan doa.

Setiap kata yang terucap darinya, ku eja selepas kepulangannya.

Dan itu sudah menjadi kebiasaan yang mengena.

Dan menyusun caraku menyikapi semesta.

 

Entah baru berapa jari bisa menatap dan bersandar padanya.

Berharap bisa memiliki kesempatan bermanja, meski dalam tubuh yang telah terperangkap dewasa.

 

Sang Maha Kuasa menyajikan jalan yang luar biasa.

Untuk setiap manusia.

Dan dalam setiap sudut keterbatasan dunia,

Saya selalu percaya,

Jalan itu akan menuju pada

‘dunia’ tanpa batas.

 

Percayalah.

Bahwa dunia memang terbatas.

Lalu mengapa harus merasa merana?

 

Dan selalu terucap darinya,

‘Jadilah solekha, dan semua akan baik-baik saja’.

 

 

Terimakasih atas senja yang Bapak sempatkan.

Doakan Opuk dan Ibu selalu…

:))

 

Picture taken from pinterest.

Minggu 74 : Kehancuranmu adalah Awal Kesadaranmu (Akan “dasar”)

minggu-74

Cinta. Pernah seseorang bertanya pada saya, apa itu cinta?

Butuh ratusan gerakan jarum jam melingkari kawan angkanya, berlembar-lembar referensi yang melintasi mata dan pikiran saya, berpuluh-puluh hembusan karbondioksida yang keluar dari relung paru-paru pencerita, beribu-ribu pixel dari layar lebar yang saya saksikan, hingga berbutir-butir air mata yang saya teteskan, untuk mencapai pada jawaban,

Cinta adalah energi.

Lebih dalam lagi, ia adalah energi dasar.

Hukum kekekalan energi atau Hukum Termodinamika I menyatakan bahwa

“Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja”.

Kita tidak dapat menciptakan atau memusnahkan cinta. Ia sudah ada.

Bersama dan pada semesta ini, termasuk bersama tubuh, pikiran, dan jiwa kita.

Ia tidak dapat kita ciptakan. Ia tidak dapat kita musnahkan. Ia terus ada. Berubah-rubah bentuk. Menjadi tawa, damai, hangat, tangis, motivasi, pilu, dan beragam perubahan bentuk-bentuk lainnya. Namun ia terus akan kembali. Sebagai energi dasar.

Kamu tidak bisa membayangkan bagaimana bentuknya. Wujudnya. Ketika ia kembali menjadi energi dasar sebelum kau rubah ke bentuk lain.

Karena “dasar” tidak pernah tersentuh sebelum kamu “menyelaminya”.

Bisa jadi kamu terus mencoba membayangkan wujudnya. Yang artinya, ketika kamu melakukan hal itu, kamu sedang mereduksi cinta menjadi “materi”. Yang terbentuk atas molekul-molekul. Lalu kau belah molekul-molekul itu menjadi atom yang merupakan satuan dasar dari materi. Lalu kau belah lagi atom itu.

Bukankah “kekosongan” yang akan kau temukan? Apa yang lebih kecil dari atom? Atom adalah Basic. Dasar dari materi.

Tidakkah kamu jatuh pada kesimpulan yang sama?

“Dasar” tidak pernah tersentuh sebelum kamu “menyelaminya”.

Kamu hanya menemukan “kekosongan” dari belahan atom itu.

Maka bukankan berarti “kekosongan”, atau “dasar” itulah yang sebenarnya memegang jalan cerita cinta itu?

Kemudian kamu akan bertanya. “Bagaimana bisa kekosongan atau dasar yang sangat jauh dan tak bisa dijangkau itu mempengaruhi hidup kita sedemikian hebat?”.

Menyelamlah.

Cari.

Apa yang “mendasari” energi dasarmu.

Apa yang “mengisi” inti dari atom materi “cinta”mu?

Yang ada di dasar/di dalam sesuatu yang kita sebut energi dasar ini. Yang kita sebut cinta. Sesuatu yang kekal ini.

Saya yakin,

Ia Maha Kekal.

 

 

QS Ibrahim : 38 “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit”.

Momen-momen itu semakin mengkristal. Tidak bisa lagi mengaliri aliran darah dan meracuni (atau bahkan menutrisi) pikiran ini. Maka kukembalikan “Kristal” itu ke wujud aslinya. Kepada bentuk dasarnya. Entah menitipkan atau memberikan. Tapi dia aman pada genggaman,

Sang Maha Kekal.

PS : This writing inspired by Dewi Lestari (Dee)

Picture taken from pinterest.

Minggu 73 : Hanya Satu

minggu 73 sudah ikhlas.jpg

Kemarin, saya mampir ke Kota kelahiran saya. Kota tempat saya tumbuh, hingga delapan belas tahun usia saya. Saya mengunjungi banyak sekali rumah kerabat. Dalam rangka bersilaturahim dan berbagi. Saling bertukar cerita, dan menanyakan kabar satu sama lain.

Dari pertemuan-pertemuan itu, ada satu pelajaran yang saya ingat kembali.

Bahwa tidak ada keluarga yang sempurna,,,kecuali

Keluarga itu berpegang dalam hati mereka, Allah dan hanya Allah.

Manusia tidak pernah meminta dari rahim siapa ia dilahirkan. Dari keturunan yang seperti apa. Menurut saya, itulah Anugerah-Nya. Supaya kita mengambil pelajaran.

Bagi saya, keluarga adalah arena pertama yang Allah persiapkan untuk kita manusia, agar belajar mengenal ke-Esa-an Allah. Belajar Ikhlas.

Ikhlas.

Arti Ikhlas adalah memurnikan keesaan Allah. Saya yakin arti ini lebih dalam dari sekedar rela hati dan menerima ketentuan yang kita tidak inginkan.

Memurnikan keesaan Allah.

 

Sejak kita dilahirkan dari rahim ibu, ataupun darah keturunan yang kita tidak bisa pilih, Allah telah mengajarkan kita untuk ikhlas. Memurnikan keesaan-Nya. Bahwa kita milik-Nya.

Saya merasa beruntung. Dari kecil, banyak sekali Allah memberikan nikmat, ujian, dan takdir-Nya untuk saya memahami arti ikhlas melalui sosok kedua orangtua saya, keluarga saya. Memurnikan keesaan-Nya.

Tidak ada keluarga yang sempurna,,,kecuali

Keluarga itu berpegang dalam hati mereka, Allah dan hanya Allah.

Dari rahim dan darah keturunan siapapun kamu dilahirkan, ikhlas dan ambil pelajarannya. Pegang teguh bahwa tidak ada arti lain kita lahir di dunia selain untuk Allah. Sekali lagi, ambil pelajarannya. Bila pelajaran itu baik, yang artinya engkau lahir dari generasi yang baik, maka ulangi kebaikan itu. Bila pelajaran itu tidak baik, maka berusahalah semaksimal mungkin untuk tidak mengulangi ketidakbaikan itu, agar sejarah tidak nyaman seperti yang kamu alami tidak terulang, pada generasi setelahmu.

Bila kamu berhasil menjadi baik dari sejarah yang tidak baik, maka sesungguhnya itu bukan semata karena tempaan itu. Tapi karena Allah. Esakan Allah. Begitupun bila kamu berhasil mempertahankan kebaikan sejarah, maka itupun bukan karena semata kamu di lingkungan yang baik. Tapi karena Allah. Esakan Allah.  

Setiap manusia memiliki cobaan dan ujiannya masing-masing. Levelnya pun berbeda-beda. Seberat apapun ujianmu, bukan hanya kamu yang mengalami itu. Dan bahwa sebeda-beda apapun ujian masing-masing manusia,

pemberi dan pengakhirnya sama. Allah.

Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia”. (QS. Al-Ikhlas : 1-4)

*Playing “Hanya Satu” – Mocca*

Picture taken from pinterest.

Minggu 67 : Hyper-ballad

minggu-67-hyperballad

It’s been more than one and a half year since the first time I accidentally met this guy called Syafruddin Akhyar in Chhatrapati Shivaji Airport, Mumbai. And it’s been more than one and a half year too since his first text message knocking on my life asked for a permission to get in. Miraculously I had the impression of a dream guy and universe’ sign that once I thought too good to be true to be exist in this world. With all the pleasures I let him in and we’re both started sending smiles with three thousands and two hundreds forty nine point two miles distance of Mumbai-Surabaya.

The distance got me adapted to a whole new kind of friendship that I’ve never had before. The long distance one. The moments that were created were beyond my expectations. Or it’s just the euphoria of first time experience that we’re both had never tasted before in life?

Despite the many happy things we went through, we finally fell apart. Typo. We ‘should’ fall apart. Love would never be a blessing without parent’s blessing. A circumstance he was never thought before to be an issue from his side. I was disappointed with the unclear reason that was provided. What calmed me was the thought that ‘unclear reason’ is not wrong to be a reason of rejection. Sometimes “No” doesn’t need any reason to make. A friend told me.

It’s just another pity story in life that human would be interested to hear. To be frank, it sounds just like the Romeo-Juliet tale with substitute scenario of happy ending instead of sad one. Romeo and Juliet chose to be single and happy with each own life and deal with it.

As people say, time flies. I can’t believe that it’s been almost a year since I tried to heal the wounds, even most of the time it didn’t work. Through the ups and downs, I kept my chin up, heading forward, not to mention the wiped tears.

Finally,

I hope to someday use what I got from this hyper-ballad to be laughed about with my son or daughter once they tell me they’re broken hearted. With my pretty smiles I’d tell them, “Human hurts, but Allah won’t. You’ll be fine, my sweetchild-o’-mine”.

*Playing Hyperballad cover by Mocca*

Picture taken from pinterest .

Minggu 64 : How ‘did’ you see things ahead?

fullsizerender-2

Sepasang mata itu adalah milik saya. Foto yang diambil 6 tahun lalu oleh kawan saya. Mata saya tidak berubah. Perspektif saya atas masa depan saya pun tidak berubah. Saya konsisten dengan pandangan saya. Visi saya. And I can’t be more grateful for that. Menyadari dan menetapkan apa yang saya inginkan dalam hidup saya, pada usia 18 tahun kala itu. Tidak. 16 tahun lebih tepatnya. Sebelum foto ini diproduksi dalam hidup saya. Sebelum hari ini saya mengonstruksi makna foto itu. Saya sudah menetapkan apa yang saya inginkan.

People say, life happens when u’re making up a plan. So, ‘hell with plans, screwed it!’. I knew. But, that’s definitely why I keep making up plans. Life would still happen even my plans didn’t work.

Ada begitu banyak hal yang saya lakukan dalam rencana-rencana itu yang seringkali dianggap sebagai suatu deviasi oleh pandangan populasi di lingkungan saya pada tahap rencana tersebut.

Tapi deviasi-deviasi itu yang kini membawa saya ke titik ini. Titik yang akan terus bersambung dengan deviasi-deviasi lainnya. Dan ketika saya menggunakan helicopter view, saya akan dapat melihat grafik hidup saya membentuk suatu gelombang steady state.

 

Again. I can’t stop feeling grateful.

 

Adalah sebuah ritual kecil bagi saya untuk memandangi mata saya setiap pagi, melalui cermin, dan berbicara pada diri saya sendiri, “Apa kabar mimpi-mimpimu?”.

Again. I can’t be more grateful to be that ‘nut’. Saya menyukai ritual kecil itu, yang mungkin menurut beberapa orang adalah suatu bentuk deviasi.

Besok, saya akan mengikatkan diri saya pada suatu profesi yang menjadi bagian kecil dari bagian besar luas pandangan ‘mata’ saya atas rencana hidup saya. Mengikatkan diri saya untuk waktu yang tidak singkat.

Kali ini saya bercermin sambil mengedipkan mata saya.

 

Sebuah selebrasi.

 

Karena saya berhasil menjalankan rencana saya (meski tidak sempurna dan sebaiknya diberi mark untuk revisi) yang memungkinkan saya berpindah pada tahap selanjutnya dalam rencana saya.

Saya merayakannya dengan sebuah kedipan. Satu kedip saja. Karena saya tidak ingin menghabiskan waktu yang terlalu lama dan tenaga yang terlalu banyak untuk perayaan itu.

Saya harus mulai memasang mata saya lagi. Memasangnya sama seperti ketika saya berusia 16 tahun dulu. Memandanginya. Sambil menyilangkan jari-jari saya. Berharap, semoga rencana selanjutnya dimudahkan dan diridhoi-Nya. Dan membawa saya ke titik syukur yang sama pada usia 24 tahun ini.

 

Ada perasaan kalut yang sama.

I don’t know. Am I seeing ahead with the right eyes? With the right kind of perspective? I don’t know.

 

Eventhough at this point I got the proof that my plan has worked. But still. It’s just me with my eyes. Such small stardust in this milkyway.

 

However…

 As I said, some plans might not be working.

But life will still happen.

 

 

I’m working on my plan.