Minggu 116 : Makna dan Fana

minggu 116

Apa. Siapa. Kapan. Kemana. Kenapa. Dan Bagaimana.

Pernahkah kau membayangkan.

Suatu pagi nanti.

Dengan helai abu di kepalamu.

Garis kerut di kernyit matamu.

Garis urat di punggung tangan dan kakimu.

Dan sengal isak tarik-hembus nafasmu.

Kau terduduk di atas kursi kayu.

Menatap jauh pada apa saja yang melintas.

Di pelupuk matamu.

Kau bertanya,

Apa.

Siapa.

Kapan.

Kemana.

Kenapa.

Bagaimana.

Sudahkah semua terjawab.

Perjalananmu.

Sudahkah,

Setiap pertanyaan itu.

Menyunggingkan senyum di bibir tuamu.

Ataukah,

Itu semua.

Mengembalikanmu pada pertanyaan.

Sudahkah saya menjadi makna.

Ataukah saya hanya menjadi sekedar fana.

Kemudian kau beranjak.

Berdiri memeluk kenangan.

Apa.

Siapa.

Kapan.

Kemana.

Kenapa.

Dan Bagaimana.

 

*Playing Hingga Tenang*

 

Picture soure from Pinterest.

Advertisements

Minggu 109 : It’ll Just Imperfect

minggu 109

Tadi pagi ketika membereskan tempat tidur, menepuk bantal, guling, dan melipat selimut yang mendampingi tiap lelap saya, saya mengalami diskusi dengan diri saya. Setiap usap dan tepuk lembut saya pada perangkat tidur saya memunculkan seling tanya dan jawab. Sudah lama saya tidak merasa seintim ini dengan diri saya sendiri. Pada lipat terakhir selimut yang sekaligus menutup ritual pagi tersebut, saya beranjak mencari tetes air. Memindahkan diskusi saya pada kucuran air wudhu dan membawanya ke ‘atas’. Ke langit penyedia segala jawaban.

Sudah lama saya tidak menuangkan cerita tentang “pencarian calon imam”. Topik klise. Entah ingin atau tidak, namun saya merasa tertarik bercerita tentang itu (lagi). Anggap saja ini cuma sekedar curahan isi hati. Mungkin hasrat bercerita ini didorong oleh penyampaian niat berkenalan dan keseriusan yang silih berganti muncul dari beberapa pria dalam rentang beberapa bulan terakhir ini dan dihadapkan pada saya untuk berkata iya atau tidak. Mungkin pula didorong oleh kebingungan dan kegalauan berkata “tidak” untuk menghargai proses perkenalan yang sudah lebih dulu dijalani dengan seseorang meskipun berakhir “tidak” juga (meski bukan dari saya, tapi ibu saya 🙂 ). Mungkin juga didorong oleh pertanyaan-pertanyaan “Kamu kapan” yang wajar muncul dari setiap undangan pernikahan kawan.

 

Jadi, “Kapan?”.

 

Jawabannya satu. Saat Ibu meridhoi. Karena saat itu pulalah Allah meridhoi. Yap. Simpel. Memang masih belum ada yang diiyakan saja sama Ibu. But I’m sure, bukan hati ibu ingin menunda-nunda. Bukan pula seolah-olah Ibu membiarkan raga saya ini ingin terus menangkup “fitnah” karena belum ada yang “di-iyakan”. Apalagi karena belum ingin saya menikah. Ya, tiga hal ini sempat menjadi kesu’udzanan saya pada Ibu. But Finally, saya memahami…Bagaimanapun alasan ibu saya, syar’i ataupun tidak syar’i dalam persepsi saya, pun lawan jenis yang sampai pada tahap berkenalan dengan ibu saya, saya meyakini betul, Ridho Allah itu bergantung pada Ridho Ibu. Kalau memang Ibu masih belum Ridho, ya berarti Allah juga memang belum Ridho.

Saya yakin, Ibu betul-betul menyayangi saya. Dan sayangnya Ibu itu adalah batas tingkat paling bawah sayangnya Allah pada saya sebagai hambanya. So, can you imagine How Huge Allah’s love, then? Saya yakin, Ibu menginginkan yang terbaik bagi dunia-akhirat saya. Yang dapat “dititipi” saya anak perempuan semata wayangnya ketika beliau berada pada jarak ribuan awan dan lintas samudera sana. Yang dapat menenangkan “pejam matanya” saat kelak terpisah alam dengan saya. Yang dapat ‘mengamankan’ dan ‘membahagiakan’ hidup saya di dunia, dan menarik saya ke Surga.

 

Sometimes it’s really hard to say good bye to a person that I believe will be a good one for my Dunia-Akhirat. But when Ridho is not on the hand, it’ll just imperfect even if it’s pretty, right?

 

The moment will just come in time, when Allah says so.

When He (entah siapa) comes and attracts me. Then bravely ask to Ibu, and Ibu says “Yes”. Isn’t the process just that simple? Don’t circumstance things, and suffer deep in griefs, ladies. Menurut saja dengan Ibu. Bukankah itu menjadi tanda kesolekhaanmu? Am I right?

 

 

*Playing Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti*

 

Picture source from pinterest.

 

Minggu 108 : Cerita Fajar

minggu 108.jpg

Hai. Sudahkah kau sapa matahari? Baru saja dia tuntaskan tugasnya untuk menyirnakan garis fajar. Dengan cara yang sangat indah. Temaram lampu kota pun mulai padam. Beberapa orang sudah mulai bergerak dalam siklus rutinitas minggunya. Atau mulai bergerak menciptakan siklus baru.

Saya memejamkan mata. Membayangkan manusia-manusia yang berada di balik atap rumah mereka. Atau tempat-tempat mereka terlelap tadi malam.

Ah, ada seorang ibu yang sedang mengecup bayi mungil. Dari belakang punggungnya, ada lengan hangat seorang pria yang menangkup dan mengecup bahunya. Mengusap lembut pangkal kepalanya dan bayi itu. Ada tatapan syukur yang mendalam.

Hm, yang di sana. Ada seorang anak kecil perempuan. Mukenahnya lucu sekali. Berwarna kuning dengan renda perca kaca yang sederhana. Lucu sekali, ada boneka Pikachu didudukkan di sebelahnya. Sedang apa dia? Dia sedang mengaji. Hmmmmm, sendirian kah dia? Ah iya, sepertinya yang di kamar sebelahnya orangtuanya. Hmmm masih tidur mereka. Beruntungnya kalian memiliki anak perempuan itu. Berinisiatif mengaji sendiri setelah Shubuh. Mungkin didikan ustadz-ustadzahnya di sekolah. Semoga terus tumbuh menjadi Solekha.

Wah, rumah yang itu juga sama. Ada anak perempuan kecil yang sedang mengaji. Daripada anak yang tadi, yang ini mukenahnya lebih sederhana, pun rumahnya sih. Jauh sangat sederhana. Hmmmmm. Siapa itu? Ada kakek-nenek masih dengan pakaian sholat dan mukenah putihnya. Si Nenek menghampiri Kakek dengan segelas teh yang asapnya mengepul-ngepul. Hmmmm mana orangtua anak itu. Sepertinya mereka hanya bertiga. Mungkin dia dititipkan orangtuanya untuk tinggal di sana…Terimakasih Kakek dan Nenek. Semoga dia tumbuh menjadi manfaat di dunia dan akhirat bagi kalian.

Emmm, rumah yang di sana. Ada seorang Ibu yang sedang menarik selimut, bantal, sampai guling dari tempat tidur anaknya. Nampaknya sudah 21 Tahun usia anak itu. Sepertinya Ibu itu sedang mengucap, “Shubuh! Shubuh!”. Hahaha. Ini sangat indah. Bangunlah kawan. Kau akan merindukan itu suatu waktu nanti. Bahkan mungkin saat ini ada yang mendamba bisa merasakan momen yang sedang kau rasakan itu.

Coba sekarang yang di sana…Sepertinya ini kos-kosan. Hmmm. Tapi yang tinggal banyak orang dewasanya. Ada yang berpasangan juga. Wah, ada yang baru pulang sepertinya. Hmmm mbak, baju dan dandananmu. Eh, itu ada lagi. Temannya? Bajunya juga seksi. Mereka berpisah. Menyelip masuk dalam kamar masing-masing. Mbak yang tadi sudah masuk kamar. Sedang apa dia? Mengusap kapas membersihkan make-up nya. Tuh mbak, lebih cantik ndak pakai make up. Hm, apa itu di meja riasnya? Ada foto anak kecil perempuan. Hm, kemana Mbaknya tadi? Ah itu di kamar mandi. Membasuh rambutnya dan membuihinya dengan shampoo. Hmmm. Sepertinya aku tahu kamu siapa Mbak…Eh, sudah selesai mandinya. Mau apa dia? Apa itu yang diambil dari lemarinya? Hm, mukenah dan sajadah. Hai, jangan menangis. Kenapa kamu menangis? …. Semoga Allah memberkahimu dan anak kecil yang kau pajang fotonya di meja riasmu. Atau boleh ku sebut sebagai meja kerjamu? Seperti pekerja-pekerja kantoran yang memajang foto keluarganya di cubicle kerja mereka untuk memberi semangat dalam bekerja. Tenang ya, Mbak. Badai puan pasti berlalu…

Hmmmm, coba aku bergeser lebih jauh. Ah, pasangan. Sepertinya usianya tak jauh berbeda denganku. Ah manisnya, mereka baru usai berjamaah Shubuh. Kok ndak Shubuh di masjid aja sih masnya. Eleuh, eleuh. Yang perempuan salim cium tangan ke hidung. Aku tahu nih lanjutannya. Tuh kan, bener, yang laki-laki mengecup dahinya yang perempuan. Hmmmm…. Sepertinya saya kenal yang perempuan. Ah, bukannya itu teman saya. Kemarin baru saja dia akad dan melangsungkan resepsinya semalam. Hmmm, makanya yang laki-laki ngga shubuhan di masjid. Mungkin si mas nya lelah. Mereka berdua saling bertatapan dan tersenyum. Masih di atas sajadah mereka. Hangat sekali. Barakallahu laka, wa baraka ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khayr. Maaf ya saya tidak datang ke resepsimu. Luar kota siiih. Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan. Aamiin.

Hmmm, rumah siapa ini? Sepertinya aku mengenalinya. Eh, ada dua kucing. Yang satu gendut lucu sekali. Yang satu kurus. Ada tiga laki-laki yang masih terlelap. Eh, kamar satunya cuma ada seorang perempuan sendirian. Sedang apa dia? Hmmm sepertinya tidak ada orangtua di rumah ini. Ada meja belajar dihiasi corkboard dengan banyak sekali kertas tulisan yang dipinned di situ. Wishlist, dan segala catatan lain.  Foto ibu, dan kawan-kawan. Hm, saya tahu ini rumah siapa.

 

 

Aku membuka pejaman mataku.

 

 

QS As-Sajdah : 4-9 “Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu, ialah Tuhan yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang. Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur”.

 

*Playing Sampai Jadi Debu*

Picture source from pinterest.

 

Minggu 88 : The Moon Sonata

minggu 88

Hai, hidup.

Apakah kau memanggilku tadi?

Maaf bila aku tidak mendengar sapaanmu.

Apa?

Aku terlalu asyik menarikan jariku?

Seperti sedang memainkan barisan hitam putih piano kau bilang?

Haha.

Sebentar,,,biarkan aku tertawa dulu.

Kalimatmu tadi lucu sekali.

Hei.

Aku tidak sedang bermain piano.

Tidak, aku tidak sedang memainkan not balok apapun.

Kau tahu aku tak bisa.

Bukankah,

Kamu tahu pasti.

Bila jari – jari ini sedang menari.

Itu sedang bercerita tentangmu.

Pada mereka kaum yang haus akan cerita.

Pun sama sepertiku.

Iya.

Aku tahu.

Tidak.

Aku tidak ragu.

Tenang saja.

Akan ku bawa kamu.

Ke arah yang tepat.

Sudah.

Berhenti tersenyum seperti itu.

Kau begitu saja.

Dibelakangku.

Cukup tidak lupa sesekali menyapaku.

Agar aku menatapmu.

Menolehkan pandangku ke belakang.

Untukku mengingat tiap hentakan momentum yang membentukku.

Jangan lupa untuk sesekali memelukku dari belakang.

Kau tahu,,

aku suka itu kan?

.

.

.

Picture taken from pinterest.

Minggu 87 : Bingar yang Teduh

minggu 87

Kali ini hanya ingin bercerita. Beberapa waktu lalu ini, sedang berproses kenalan dengan seseorang yang sangat luar biasa. He did step by step (mostly) sesuai syariat. Tapi Allah punya rencana lain yang lebih indah. Untuk masing-masing dari kita, InsyaAllah.

Catatan saya…

Perkenalan sebaiknya menggunakan iman. Bukan perasaan.

Beberapa orang mungkin akan bilang “Halah”. Tapi beneran deh, teori ini bener banget dan manfaatnya MasyaAllah banget. Menjaga diri biar cepet “lurus” lagi kalau “mbelok”. Menjaga hati biar nggak cuwil bila gagal. Membantu membuat checklist yang tepat atas kualitas-kualitas yang harus dipertimbangkan tentang dia, tapi terutama tentang nilai kualitas kita sendiri bila bersama dia. Dan bila gagal perkenalannya, InsyaAllah sedih untuk merelakannya akan jadi pakai iman, bukan pakai perasaan. Jadiii, nggak sedih berlebihan.

Kemarin “belok” saya banyak. Serius deh, pakai iman itu penting. Selemah-lemah iman kita, InsyaAllah akan tetap membantu.

Sebaiknya memang berhenti bila langkah selanjutnya ada halangan, yang bila diterjang dapat melanggar syariat.

Iya…it’s another “Halah” (sok) wise words. Kesannya sok alim banget. Tapi memang bila bisa diusahakan tidak melanggar syariat, kenapa ngga dicoba untuk tidak melanggar? Jangan sampai mencoba mementahkan dengan rasionalitas kan? Terkadang memang ada hal-hal dalam agama yang memang tidak bisa dilogikakan. Bukannya itulah mengapa agama perlu iman? Katanya sih, “Jangan sampai kita mencerca atau menjudge seseorang yang sedang menjalankan syariat yang “diyakininya”. Kita ngga pernah tahu pasti bukan, mana syariat yang benar sebetulnya. Kita cuma tahu pasti syariat yang kita “yakini benar”. Relatif sekali. Mungkin saja syariat yang orang lain yakini itu yang benar. Hanya saja ilmu dan iman kita yang belum sampai”.

Anyway,,,,,untuk mas nya. *ciye*

Terimakasih telah mengambil sikap yang insyaAllah tepat. Selamat berjalan masing-masing lagi.

“Nggak mungkin orang yang datang kepada Allah, pulang dalam keadaan kecewa”.*

Ya kan?

Picture taken from pinterest.

*Quoted from Ustadz Hannan Attaki

Minggu 78 : ‘Dunia’ Tanpa Batas

minggu-78

Guratan wajah itu. Hadir dihadapanku. Sosok yang hadir dan tiada. Namun mungkin selalu menyajikan doa.

Setiap kata yang terucap darinya, ku eja selepas kepulangannya.

Dan itu sudah menjadi kebiasaan yang mengena.

Dan menyusun caraku menyikapi semesta.

 

Entah baru berapa jari bisa menatap dan bersandar padanya.

Berharap bisa memiliki kesempatan bermanja, meski dalam tubuh yang telah terperangkap dewasa.

 

Sang Maha Kuasa menyajikan jalan yang luar biasa.

Untuk setiap manusia.

Dan dalam setiap sudut keterbatasan dunia,

Saya selalu percaya,

Jalan itu akan menuju pada

‘dunia’ tanpa batas.

 

Percayalah.

Bahwa dunia memang terbatas.

Lalu mengapa harus merasa merana?

 

Dan selalu terucap darinya,

‘Jadilah solekha, dan semua akan baik-baik saja’.

 

 

Terimakasih atas senja yang Bapak sempatkan.

Doakan Opuk dan Ibu selalu…

:))

 

Picture taken from pinterest.

Minggu 74 : Kehancuranmu adalah Awal Kesadaranmu (Akan “dasar”)

minggu-74

Cinta. Pernah seseorang bertanya pada saya, apa itu cinta?

Butuh ratusan gerakan jarum jam melingkari kawan angkanya, berlembar-lembar referensi yang melintasi mata dan pikiran saya, berpuluh-puluh hembusan karbondioksida yang keluar dari relung paru-paru pencerita, beribu-ribu pixel dari layar lebar yang saya saksikan, hingga berbutir-butir air mata yang saya teteskan, untuk mencapai pada jawaban,

Cinta adalah energi.

Lebih dalam lagi, ia adalah energi dasar.

Hukum kekekalan energi atau Hukum Termodinamika I menyatakan bahwa

“Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja”.

Kita tidak dapat menciptakan atau memusnahkan cinta. Ia sudah ada.

Bersama dan pada semesta ini, termasuk bersama tubuh, pikiran, dan jiwa kita.

Ia tidak dapat kita ciptakan. Ia tidak dapat kita musnahkan. Ia terus ada. Berubah-rubah bentuk. Menjadi tawa, damai, hangat, tangis, motivasi, pilu, dan beragam perubahan bentuk-bentuk lainnya. Namun ia terus akan kembali. Sebagai energi dasar.

Kamu tidak bisa membayangkan bagaimana bentuknya. Wujudnya. Ketika ia kembali menjadi energi dasar sebelum kau rubah ke bentuk lain.

Karena “dasar” tidak pernah tersentuh sebelum kamu “menyelaminya”.

Bisa jadi kamu terus mencoba membayangkan wujudnya. Yang artinya, ketika kamu melakukan hal itu, kamu sedang mereduksi cinta menjadi “materi”. Yang terbentuk atas molekul-molekul. Lalu kau belah molekul-molekul itu menjadi atom yang merupakan satuan dasar dari materi. Lalu kau belah lagi atom itu.

Bukankah “kekosongan” yang akan kau temukan? Apa yang lebih kecil dari atom? Atom adalah Basic. Dasar dari materi.

Tidakkah kamu jatuh pada kesimpulan yang sama?

“Dasar” tidak pernah tersentuh sebelum kamu “menyelaminya”.

Kamu hanya menemukan “kekosongan” dari belahan atom itu.

Maka bukankan berarti “kekosongan”, atau “dasar” itulah yang sebenarnya memegang jalan cerita cinta itu?

Kemudian kamu akan bertanya. “Bagaimana bisa kekosongan atau dasar yang sangat jauh dan tak bisa dijangkau itu mempengaruhi hidup kita sedemikian hebat?”.

Menyelamlah.

Cari.

Apa yang “mendasari” energi dasarmu.

Apa yang “mengisi” inti dari atom materi “cinta”mu?

Yang ada di dasar/di dalam sesuatu yang kita sebut energi dasar ini. Yang kita sebut cinta. Sesuatu yang kekal ini.

Saya yakin,

Ia Maha Kekal.

 

 

QS Ibrahim : 38 “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit”.

Momen-momen itu semakin mengkristal. Tidak bisa lagi mengaliri aliran darah dan meracuni (atau bahkan menutrisi) pikiran ini. Maka kukembalikan “Kristal” itu ke wujud aslinya. Kepada bentuk dasarnya. Entah menitipkan atau memberikan. Tapi dia aman pada genggaman,

Sang Maha Kekal.

PS : This writing inspired by Dewi Lestari (Dee)

Picture taken from pinterest.