Minggu 23 : Dunia, Akhirat, dan Banana Oatmeal

minggu 23

I’m having this bowl of banana oatmeal di pagi cerah dengan sinar matahari yang memantul ke kamar saya dari jendela tingkat dua rumah depan saya (Capek ga bacanya? :p). As my usual morning, banana oatmeal saya terasa bernutrisi dan saya yakini mampu menahan gejolak perut saya hingga jam 10 nanti.

Tapi pagi ini ada yang lebih bernutrisi dari banana oatmeal yang saya cerna. Sebuah tulisan dengan beberapa baris kalimat :

“But then, sejalan dengan waktu, gue juga belajar agama. Gue belajar dalam hidup ini, what i am, matters less. Yang penting adalah bahwa gue hidup di dunia ini sedemikian sehingga pada saat gue meninggal nanti, gue dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Munkar dan Nakir di alam kubur. Tapi di sini kemudian orang-orang mulai kehilangan ambisi hidupnya. Ya udah yang penting kuatin agama. Gak usah ngejar dunia. Hmmm….

Yap. Saya jadi mikir dan berefleksi. Ketika saya mengawali penulisan blog ini, saya sedang berada dalam euphoria “I have God. I have Allah. Period”. Dan ya, berulang kali ketika membaca kitab suci Al-Quran, berulang kali dalam dialog saya dengan-Nya itu, saya iqra’ bahwa what matters itu akhirat, bukan dunia.

Dan ya, seperti apa yang saya cerna pagi ini, sepertinya saya menjadi less ambitious. I surrendered. Udah ah, kesampingkan mimpi-mimpi punya rumah di perumahan tanpa tiang listrik itu, karir tinggi dengan gaji dua digit itu, partner hidup / suami cerdas – ganteng – putih – nice scent – dan sexy abs itu, cari yang penting sholeh aja, dan sebagainya – dan sebagainya. Yang penting, kejar Ridho-Nya, curi perhatian-Nya. Very basic, saya menggunakan strategi jadi lebih nurut sama Ibu dan jadi perempuan yang lebih ‘Fatimah’ (Meskipun masih failed. But I’m trying lah yaaaa… ;p).

Sepertinya saya salah menginterpretasikan titik pencerahan saya itu. Bukan. Seharusnya bukan begini. Seharusnya jatohnya saya bukan menjadi lebih less ambitious seperti sekarang ini.

Wa lal – akhiratu khairun laka minal ula”.

“Dan akhirat itu lebih baik bagimu dari dunia”.

Saya merasa semangat saya, my vibes lebih negatif daripada ketika saya menjadi Febri yang ambisius dan bergejolak. Mungkin, karena saya salah menginterpretasi “Wa lal – akhiratu khairun laka minal ula” itu.

Seharusnya bukan merubah cita-cita saya secara drastis, membuang mimpi-mimpi duniawi itu. Tapi (sepertinya) seharusnya lebih pada merevisi landasan mengapa ingin memiliki impian-impian duniawi itu, menjadi lebih berasaskan pada akhirat.

Bila tinggal dan mempunyai rumah di perumahan tanpa tiang listrik itu bisa membuat saya memberikan tempat tinggal yang menyenangkan, nyaman, dan aman bagi keluarga kecil saya kelak, membuat keluarga-kerabat saya senang bersilaturahim dan merasa dimuliakan, menyediakan tempat yang menyenangkan bagi anak-anak yatim yang saya undang mengaji bersama di rumah saya kelak, instead of biar hidupku nyaman saja, maka mungkin akan lebih ada akhirat daripada dunia dalam mimpi saya itu.

Bila karir tinggi dengan gaji dua digit itu bisa lebih berguna untuk saya menghabiskan waktu melakukan aktivitas yang positif (misal belajar masak, nata-nata rumah biar jadi cantik dan rapi biar kelak suami betah dan bahagia ~ Yes, it needs much costs), membantu sanak saudara yang membutuhkan, menyantuni fakir dan yatim, instead of biar bisa jadi cantik dan beli barang-barang branded, atau biar bisa memanjakan anak-anak saya kelak dengan barang-barang atau liburan mewah, maka mungkin akan lebih ada akhirat daripada dunia dalam mimpi saya itu.

Bila keinginan untuk memiliki partner hidup / suami cerdas – financially settle – ganteng – putih – nice scent – seksi (relatif yah definisinya, kamu seksi kok yang :p) bisa membuat saya bersemangat memanfaatkan kecerdasan yang sama-sama dimiliki untuk menciptakan dan membangun keluarga yang samara, menghormati suami saya kelak karena selalu mampu memenuhi kebutuhan keluarga dan memberikan kejutan-kejutan manis, bersemangat mensyukuri nikmat dari-Nya untuk merawat keindahan yang diberikanNya demi menyeimbangi ‘keindahan’ suami yang memanjakan mata saya kelak, instead of biar hidup tinggal belanja – ke salon – anter jemput anak les dan sekolah – dan have a very very good time on bed (Ngertilah ya maksudnya), maka mungkin akan lebih ada akhirat daripada dunia dalam mimpi saya itu.

So, “Wa lal – akhiratu khairun laka minal ula”.

Bukan ambisi duniawi yang seharusnya direvisi. Tapi lebih mendalami lagi, apakah alasan dibalik ingin memiliki duniawi itu sudah lebih akhirati? (kok ga enak ‘akhirati’. Yah pokoknya gitu).

Karena percayalah,

“Dan (alasan demi) akhirat itu lebih baik bagimu dari (alasan demi) dunia”.

 

Banana oatmealku habis.

 

Inspiration sources :

http://suamigila.com/2015/10/tujuan-hidup.html

Picture taken from https://id.pinterest.com/pin/380554237240874041/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s